Sebagai cendekiawan dengan nilai pelajaran sejarah tidak pernah lebih rendah dari pada delapan, penulis tahu betul banyak malapetaka di dunia sampai surga yang bersumber dari wanita.
Dalam literatur kristen kita mengenal kisah Samson and Delilah. Samson yang perkasa dan taat pada Tuhannya, akhirnya memberi tahukan kunci kelemahannya pada Delilah, wanita cantik jelita yang dibayar oleh penguasa untuk “menaklukkan” si hamba Tuhan. Meski berbeda penyebutan nama tokoh dan versi sedikit, agama Islam dan Kristen mempunyai sebuah cerita yang sama. Cerita yang termaktub dalam kitab suci masing-masing. Cerita tersebut adalah kisah Adam dan Hawa ( Islam) atau Adam dan Eva ( versi Kristen-red).
Kedua kisah di atas intinya menyebutkan bahwa pihak wanita (hawa/eva) lah yang pertama tergoda rayuan setan. Memakan buah terlarang ( tidak jelas rasa buah, jumlah, harga dan asal ( berasal dari kebun sendiri atau pohon tetangga alias buah curian). Pihak pria, Tok Adam, (kan kakek moyang kita jadi pantaslah kalau disapa atok) cuma ikut-ikutan memakan buah itu karena setia pada cintanya. Kejadian zaman Nabi ini membantah teori bahwa pria cenderung tidak setia. Semua pria pada dasarnya adalah makhluk setia. Masalahnya, ada oknum-oknum pria yang kelebihan stok kesetiaan, sehingga merasa wajib membagi-baginya pada wanita-wanita yang dianggap berhak menerima. Istilah ARAB Leboy nya, zakat cintalah ( kalau Ustadz cinta ada, zakat cinta harus ada dong!!)
Literatur Mesir menyimpan kisah cinta Cleopatra. Beragam versi ahli sejarah turut menceritakan lika-liku cinta sang ratu. Konon kecantikan penguasa negeri “ Hadiah Sungai Nil” ini membuat banyak kuda nil betina jadi cemburu, lantas mengajak pejantannya berimigrasi. Akibatnya persebaran kuda nil tidak hanya di Mesir dan sekitar sungai nil saja, tapi hampir di seluruh pelosok Afrika. Bahkan sampai di kebun-kebun binatang Eropa maupun Indonesia. Salah satu dari sekian banyak legenda Cleopatra mengkisahkan, bagaimana perebutan cinta sang ratu adalah awal mula pertikaian antara Julius Caesar ( kaisar besar dari Romawi) dan saudaranya Antonius.
Di Indonesia sendiri, sejarah kita menyimpan kisah kelam perang tujuh turunan, antara keturunan Tunggul Amatung dan Ken Arok. Setelah membunuh Empu Gandring ( menurut keterangan polisi di TKP, Ken Arok terpaksa membunuh sang empu sakti karena tak sanggup membayar upah menempah keris. Yang naik akibat naiknya harga bahan baku, termasuk arang buat pemanas besi yang mulai susah dicari akibat ilegal logging) Ken Arok pun sporing ( istilah Medan untuk melarikan diri karena bekasus. Sebagai pemilik KTP bertanda tangan Camat Medan Maimun, penulis merasa wajib mempopulerkan bahasa gaul Medan agar tak kalah dengan bahasa gaul Jakarte)
Dalam masa sporing, Ken arok yang pengangguran dan gengsi antri BLT, memutuskan menerima pekerjaan sebagai SATPAM (Satuan Pengamanan) di kediaman adipati Tunggul Ametung. Dalam alam fikir sang pemuda, dari pada menunggu sampai bungkuk aplikasi janji para Capres dan Cawapres membuka lowongan kerja berjuta-juta, lebih baik ia memulai karirnya dari bawah. Berhubung sejak kecil sudah gilak masuk polisi (seperti M. Faidillah Lubis, ketua kelas di masa-masa akhir kejayaan SMU Plus Asahan) Ken Arok berhasil lulus dalam setiap ujian. Baik itu ujian kesamaptaan maupun psikotesnya. Zaman dahulu kala, menjadi satpam syaratnya lebih ketat daripada menjadi calon Presiden Indonesia. Sebab untuk menjadi presiden di negeri ini cukup menunjukkan ijasah SLTA/SMU/ SMA yang dilegalisir. Maka jangan heran bila orang buta pun pernah memimpin Indonesia.
Karena menilai kinerjanya bagus, adipati lalu mengangkat Ken Arok sebagai body guard ( pengawal pribadi ) sang istri, yang cantiknya melebihi Manohara walau tidak lebih muda. Pada suatu ketika, paha istri majikannya terintip oleh Ken Arok ( begitulah pengakuan Ken arok kepada para ahli sejarah. Mengenai apakah terintip dengan sengaja atau tidak, hanya Tuhan beserta staf-staf ahliNYA yang tahu pasti) Di area yang menjadi hak preogratif sang adipati, sang pemuda ndeso melihat sebuah tanda. Yang mana menurut seorang peramal yang pernah didatangi Ken Arok, yakni Ki Joko Pintar-Pintar Bodo ( kakek moyangnya Ki Joko Bodo, paranormal yang sekarang sedang kondang ), dari rahim wanita yang memiliki tanda seperti itu nantinya akan lahir para raja. Tak ingin miskin sampai tujuh turunan, apalagi sampai delapan, sembilan, berpuluh turunan, timbullah niat Ken Arok menikahi Ken Dedes. Entah meniru Antasari Ashar ( si Ketua KPK yang tersangkut kasus sengketa tali air) atau Antasari yang meniru dirinya, Ken Arok lantas membunuh suami Ken Dedes, Tunggul Amatung, demi hasrat mengakusisi janda sang bupati.
Tak percaya pada kinerja aparat kejaksaan yang lebih pandai memenjara wanita tak berdaya, seperti Prita Mulya Sari dari pada menangkap koruptor negara, anak kandung Tunggul Amatung memutuskan untuk menyelesaikan persoalan di luar pengadilan. Ibarat kata pepatah dalam dunia preman “ Hutang uang bayar uang. Hutang Darah Dibayar Darah. Gak Mau Bayar Hutang Kau Kubuat Berdarah-Darah” Ken Arok pun harus meregang nyawa dengan usus terburai-burai, di keris putra tirinya. Sayang, upaya membunuh Ken Arok tidak berakhir seperti motto Perum Pegadaian “ Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah ” Secara bergantian, keturunan Ken Arok dan adipati yang sudah mati tersebut saling bunuh.
Di abad reformasi, ada kisah rebutan caddy di antara para pegolf amatiran yang mengguncang dunia perpolitikan tanah air. Apalagi kalau bukan kasus pembunuhan Nasrudin Si Tukang Kawin oleh Antasari yang Sok Suci. Kecemerlangan pemberantasan korupsi oleh KPK seolah menguap bak kencing kuda di jalanan Jogja, akibat kasus yang berlatar belakang “ Rebutan Racun Dunia” ini.
Begitu banyaknya masalah yang bisa ditimbulkan oleh wanita, sehingga bangsa arab jahiliyah menjadikan budaya mengubur bayi perempuan sebagai ritual penghilang aib. Akan tetapi tidak adil menimpakan semua kesalahan pada perempuan. Perempuan menjadi penggoda karena ada yang mau digoda dan tergoda. Semua pahlawan besar lahir dari seorang wanita. Pepatah kuno juga berkata “ Bukan Salah Bundo Mengandung Tapi Salah Bapak Gak Pakai Sarung” Lagi pula seperti halnya peranan morfin sebagai anastesi dalam ilmu bedah, dalam dosis dan kondisi yang tepat, racun bisa menjadi obat. Jadi terserah anda para wanita. Mau jadi racun, obat atau waria!!!!
Namun satu hal yang belum bisa terjawab oleh penulis sampai saat ini, tanda di paha Ken Dedes itu bentuknya seperti apa sich?? Apakah tahi lalat, tembong, kutil, panu, kadas atau kurap??? Barang siapa yang bisa mengirim jawaban yang memuaskan, akan dihadiahi pulsa simpati senilai lima ribu ringgit Indonesia. Percayalah..percayalah…percayalah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar